Fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2026 menyebabkan sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kekeringan panjang. Berdasarkan laporan CNN Indonesia, kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya curah hujan serta penyusutan sumber air di berbagai daerah.
Penyusutan sumber air ini turut memengaruhi kemunculan kembali sejumlah desa dan bangunan yang sebelumnya tenggelam akibat proyek pembangunan waduk dan bendungan.
Ketika permukaan air menyusut drastis, sisa-sisa permukiman, makam, hingga bangunan yang selama bertahun-tahun berada di bawah air kembali terlihat oleh publik.
Fenomena tersebut terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan menjadi perhatian karena mengingatkan kembali pada masa-masa ketika kampung tersebut belum tenggelam.
Di Kabupaten Lebak, Banten, dampak kekeringan akibat El Nino membuat elevasi air di Bendungan Karian menyusut drastis sehingga sisa permukiman warga menyembul ke permukaan.
Fenomena ini terlihat di Kampung Somang, sebuah area permukiman padat penduduk yang ditinggalkan warganya sejak tahun 2023 untuk proses penggenangan waduk tanpa dihancurkan total.
Sementara itu, di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sisa permukiman lama di Waduk Jatigede kembali terlihat pada 5 September 2026 setelah permukaan airnya menyusut dan garis tepian waduk mundur sekitar 300 meter.
Penurunan debit air di Waduk Jatigede tersebut memperlihatkan jalan beraspal, lahan, serta reruntuhan bangunan yang sebelumnya terendam sejak penggenangan waduk pada 31 Agustus 2015.
Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, puluhan makam kuno di Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, kembali terlihat pada 9 September 2026 akibat penyusutan air Waduk Gajah Mungkur.
Makam-makam di kawasan yang dibangun menjadi waduk pada periode 1976 hingga 1980 tersebut biasanya muncul setiap musim kemarau, meski pada tahun 2026 kemunculannya lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
#Kekeringan #ElNino #WadukIndonesia
